Nyentrik di Hari Tua

Oleh: Hesti Wulandari Sitanggang

Sembilan puluh dua tahun hidup di dunia bukan perkara mudah karena getirnya hidup pasti banyak dirasakan. Butuh sosok yang kuat untuk melaluinya. Sosok itu adalah nenek saya. Sosok yang sebatang kara sejak kecil, namun sangat tegar. Tumbuh dan berkembang dalam kultur pedesaan namun pikirannya tidak pernah terbelenggu. Beliau sudah meninggalkan dunia ini lima tahun yang lalu namun kenangannya sangat membekas dalam benak kami. Sedih, haru, tawa mewarnai kenangan-kenangan itu. Beliau merupakan sosok yang penuh warna.

Saya masih teringat kisahnya di hari tua. Hari demi hari dilalui dalam kesejukan desa di utara kota Yogyakarta. Keterbatasan fisik karena umur yang sudah menua membuatya tidak banyak melakukan aktifitas. Kejenuhan sering menghampirinya dan menonton televisi merupakan salah satu cara untuk mengusir kejenuhan itu. Tetapi tidak semua acara televisi membuatnya bersemangat. Hanya ada satu acara yang membangkitkan semangatnya. Hal ini membuat saya tersenyum dan menggelengkan kepala karena beliau sangat menyukai acara tinju. Pukulan jab, hook, upercut (benar ga ya istilahnya?) bukan istilah asing baginya. Terkadang beliau secara spontan menginstruksikan petinju andalannya bak seorang pelatih. Hehehe….nenek yang nyentrik. Kok bisa ya? Saya bertanya dalam hati. Alasannya tidak penting karena semangat di wajahnya membuat hati ini teduh.

Bukan hanya karena menggemari tinju yang membuat nenek saya sangat unik. Beliau juga termasuk penggemar bir. Minuman yang memiliki kadar alkohol rendah ini mungkin memberikan kehangatan karena udara yang sejuk. Tapi beliau bukan seorang alkoholik. Kegemarannya itu hanya dilakukan ketika kami sekeluarga mengunjunginya. Biasanya ayah saya dibujuk untuk membelikannya bir dan merekapun minum bersama. Menurutnya bir membuat badan terasa segar dan hangat, mungkin itu doping baginya.

Kebiasaan lain yang membuat dirinya semakin unik adalah kegemarannya merokok. Padahal semasa muda beliau bukan seorang perokok. Entah mengapa rokok menjadi kegemarannya di hari tua. Itulah nenek saya, tak dapat ditebak. Rokok menjadi pelengkap hangatnya bir baginya. Kepulan asap yang keluar dari mulutnya seolah melepaskan kesepian. Yaaa…asap rokok bisa saja merupakan meatafora dari kegundahan hatinya di hari tua. Jadi hembusan asap rokok membawa semuanya pergi, terbang ke angkasa. Meninggalkan kepenatan dunia.

Dan ia pun benar pergi meninggalkan fananya dunia ini, kembali pada penciptanya. Saya yakin ia   bahagia tinggal bersama Yang Maha Kuasa sembari memandang anak-cucunya yang masih berjuang di dunia ini. Hmmmm….itulah nenek saya, sosok yang penuh warna. Sosok yang nyentrik di hari tua. I miss u grand ma..

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: