Dilema Sebatang Coklat

Oleh: Hesti Wulandari Sitanggang

Hmm…inilah takdirku. Takdir yang tak pernah terpikirkan, apalagi kutentukan. Ku ikuti kemana takdirku berhembus. Berhembus ke seluruh penjuru dunia, tak lekang oleh waktu. Aku sendiri tak pernah mengingat kapan hadir ke dunia ini. Mungkin sudah ratusan tahun dan aku yakin masih akan hidup seratus tahun lagi. Dunia takkan jenuh memilikiku.

Akulah si hitam manis yang selalu diidolakan kebanyakan penghuni dunia ini. Akulah sang pemersatu.Tua- muda, lelaki-perempuan, miskin-kaya sangat mengidolakan aku. Kata mereka diriku sangat nikmat ketika menyentuh lidah. Tentu saja karena akulah si hitam manis. Aku tidak hanya memanjakan indera pengecap mereka, tetapi menenangkan hati dan menyegarkan pikiran. Alhasil penikmatku semakin ceria dan mereka pun tersenyum. Itulah kata mereka setelah aku dibedah, dimasukkan ke tabung-tabung asing oleh mereka yang berpakaian putih dan bersarung tangan. Entah apa yang mereka cari dariku, apakah aku mengandung zat tertentu yang menyebabkan itu semua? Ternyata aku belum mengenal diriku seutuhnya. Tapi aku bahagia jika mereka pun bahagia.

Hatiku selalu berdebar-debar ketika memasuki bulan februari. Ribuan orang akan mencariku, termasuk mereka yang tidak pernah menggemariku. Aku selalu merasa istimewa pada momen ini. Terkadang aku ditempatkan ke peraduan yang indah dan dibalut sepotong pita bernuansa pink. Aku tersanjung menjadi simbol cinta dua insan yang sedang kasmaran. Sebenarnya yang kuinginkan mereka tulus ketika kata cinta itu terucap, tapi apa lacur selalu ada yang berkhianat. Aku tetap bahagia karena tak sedikit yang kusatukan dalam cinta.

Aku bahagia ketika diriku sehatkan jiwa penghuni dunia yang fana. Namun euforia ini tak bisa kunikmati seumur hidup karena banyak juga yang memusuhiku. Bagi mereka aku adalah momok yang menghantui kesehatan. Meski aku dielu-elukan sehatkan jiwa, tapi aku tak mampu sehatkan raga. Kata mereka aku salah satu penyebab obesitas. Apa maksud mereka? Ternyata itu istilah lain dari kegemukan.

Aku tak ingin hal ini terjadi, tapi apa dayaku? inilah takdirku. Hidup sekian lama dalam dekapan lemak, sumber kegemukan yang juga sumber berbagai penyakit. Oh Tuhan, inikah takdirku? hidup seperti dua sisi mata uang. Hidup dalam dilema yang tak kunjung reda. Dielu-elukan sekaligus dibenci. Tak bisakah kutentukan takdirku sendiri? Aku hanya sebatang coklat yang tak punya kuasa. Biarkanlah hembusan takdir membawaku pergi.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: