Manjakan Lidah dengan Bakso Pak Narto

Indonesia memiliki banyak kuliner yang menarik dan sayang jika tidak dicicipi. Salah satunya adalah bakso yang mungkin sudah tersebar ke seluruh daerah. Saat ini saya ingin mengajak anda untuk memanjakan lidah di warung bakso pak narto.

Bakso yang menurut saya sangat spesial ini, mempunyai cita rasa yang benar-benar berbeda dari bakso-bakso pada umumnya. Mungkin bakso bukan makanan yang asing lagi bagi kita. Di mana pun tukang bakso mudah kita temukan tapi enak atau tidaknya itu juga relatif.

Di Yogyakarta ada sebuah warung bakso yang diberi nama “Bakso Pak Narto” yang terletak di beberapa daerah antara lain, Jl. Colombo (depan kampus UNY), Jl. Cik Ditiro (depan RS Panti Rapih), Jl. Monjali, Jl. Gejayan dan Condong Catur.  Saya bukan penggemar bakso tapi saya penggemar bakso Pak Narto. Bagi saya bakso ini benar-benar nikmat. Rasa kuahnya saja sudah enak, apalagi baksonya sangat enak rasanya. Tidak hambar, tidak lembek atau keras, pokoknya paaas banget. Bakso Pak Narto dipastikan bebas formalin dan borax apalagi harganya yang cukup murah. Harga mahasiswa karena Yogyakarta adalah kota pelajar.

Jadi buat siapa saja penggemar bakso atau bukan penggemar bakso yang tinggal di Yogyakarta, silahkan mampir dan mencoba bakso Pak Narto. Dijamin 100% halal dan mak nyusss… Saya jamin anda takkan kecewa. Selamat mencoba.

Iklan

Arti Keluarga

Oleh: Hesti Wulandari Sitanggang

Ada seorang anak kecil yang sebatang kara hidup di jalanan melihat miris ke dalam sebuah restoran. Bukan pajangan makanan di etalase yang dilihatnya, tetapi seorang anak kecil seumuran dia yang sedang bercengkrama dengan kedua orang tuanya. Dalam benak ia berpikir alangkah bahagianya jika masih memiliki orang tua. Apakah ini yang namanya keluarga? ada Ayah, Ibu dan anak? Ia tidak memiliki konsep itu dalam hidupnya. Baginya, keluarga adalah teman-teman yang hidup bersamanya di jalanan. Saling berbagi dan saling menghibur, tidak perlu hubungan sedarah. Jika suatu saat ia meninggal di jalanan, mereka pasti akan mengenangnya.

Pada tempat dan waktu yang berbeda, seorang gadis remaja termenung seorang diri di kamarnya yang berAC dan bernuansa pink. Ia merasa kesepian di rumahnya sendiri. Untung ada sang Ibu yang setia menemani. Sang Ayah yang terlalu sibuk dengan pekerjaan membuat hubungan mereka tidak seakrab dulu lagi. Begitu juga hubungannya dengan kedua kakak  laki-lakinya. Kakak tertuanya tidak pernah mengayomi ia selayaknya seorang adik. Sifat yang egois membuat sang kakak tidak pernah mempedulikan urusan keluarga. Tidak jauh berbeda, kakak keduanya pun sibuk dengan teman-temannya yang brandalan.

Secara fisik keluarga mereka masih utuh tetapi tidak ada spirit yang membuatnya merasa memiliki sebuah keluarga. Pada titik ini ia berpikir apa makna sebuah keluarga? Baginya yang terpenting sebuah keluarga harus ada saling memiliki. Ada komunikasi intensif dan pastinya harus ada koneksi jiwa antara satu dengan yang lain.

Kedua kisah di atas mungkin sudah banyak divisualkan menjadi film atau sinetron dan mungkin pernah kita alami atau kita saksikan di lingkungan sekitar. Bagi saya, mungkin kita semua sepakat, keluarga tidak hanya sebuah nama atau definisi sekelompok orang yang sedarah dan tinggal bersama dalam sebuah rumah. Keluarga merupakan pranata terkecil yang menopang eksistensi masyarakat, bahkan negara. Idealnya seperti itu tetapi saya ingin melihatnya secara sederhana.

Keluarga seharusnya memiliki nilai bagi setiap anggotanya. Nilai-nilai tersebutlah yang memberikan makna akan arti sebuah keluarga. Nilai kenyamanan atau aman seharusnya dirasakan oleh seorang anak karena kasih sayang yang diberikan oleh orang tuanya.  Orang tua pun seharusnya merasa dihargai atau dihormati oleh anak yang telah dibesarkan. Juga nilai-nilai lain yang bersifat resiprok atau timbal balik antar anggota keluarga. Setiap anggota keluarga seharusnya saling memberi dan menerima. Seorang anggota keluarga seharusnya memberikan makna akan eksistensinya bagi anggota keluarga yang lain. Jadi keluarga bukan sebuah entitas hampa yang tidak memiliki nilai sama sekali. Hal ini yang seharusnya di tanamkan sejak dini ketika sebuah keluarga terbentuk.

Makna keluarga yang saya persepsikan ini mungkin sangat subjektif, tapi sungguh menyenangkan jika sebuah keluarga terbentuk dan berkembang seirama nilai-nilai yang memberikan makna bagi setiap anggotanya. Itulah intinya. Makna ini bisa menembus ruang dan waktu. Maka lumrah jika anak kecil yang sebatang kara hidup di jalanan itu tetap merasa memiliki keluarga karena ada nilai yang diperoleh dari teman-temannya. Dengan demikian maka niscaya tidak ada lagi yang merasa kesepian di rumahnya sendiri.

Dilema Sebatang Coklat

Oleh: Hesti Wulandari Sitanggang

Hmm…inilah takdirku. Takdir yang tak pernah terpikirkan, apalagi kutentukan. Ku ikuti kemana takdirku berhembus. Berhembus ke seluruh penjuru dunia, tak lekang oleh waktu. Aku sendiri tak pernah mengingat kapan hadir ke dunia ini. Mungkin sudah ratusan tahun dan aku yakin masih akan hidup seratus tahun lagi. Dunia takkan jenuh memilikiku.

Akulah si hitam manis yang selalu diidolakan kebanyakan penghuni dunia ini. Akulah sang pemersatu.Tua- muda, lelaki-perempuan, miskin-kaya sangat mengidolakan aku. Kata mereka diriku sangat nikmat ketika menyentuh lidah. Tentu saja karena akulah si hitam manis. Aku tidak hanya memanjakan indera pengecap mereka, tetapi menenangkan hati dan menyegarkan pikiran. Alhasil penikmatku semakin ceria dan mereka pun tersenyum. Itulah kata mereka setelah aku dibedah, dimasukkan ke tabung-tabung asing oleh mereka yang berpakaian putih dan bersarung tangan. Entah apa yang mereka cari dariku, apakah aku mengandung zat tertentu yang menyebabkan itu semua? Ternyata aku belum mengenal diriku seutuhnya. Tapi aku bahagia jika mereka pun bahagia.

Hatiku selalu berdebar-debar ketika memasuki bulan februari. Ribuan orang akan mencariku, termasuk mereka yang tidak pernah menggemariku. Aku selalu merasa istimewa pada momen ini. Terkadang aku ditempatkan ke peraduan yang indah dan dibalut sepotong pita bernuansa pink. Aku tersanjung menjadi simbol cinta dua insan yang sedang kasmaran. Sebenarnya yang kuinginkan mereka tulus ketika kata cinta itu terucap, tapi apa lacur selalu ada yang berkhianat. Aku tetap bahagia karena tak sedikit yang kusatukan dalam cinta.

Aku bahagia ketika diriku sehatkan jiwa penghuni dunia yang fana. Namun euforia ini tak bisa kunikmati seumur hidup karena banyak juga yang memusuhiku. Bagi mereka aku adalah momok yang menghantui kesehatan. Meski aku dielu-elukan sehatkan jiwa, tapi aku tak mampu sehatkan raga. Kata mereka aku salah satu penyebab obesitas. Apa maksud mereka? Ternyata itu istilah lain dari kegemukan.

Aku tak ingin hal ini terjadi, tapi apa dayaku? inilah takdirku. Hidup sekian lama dalam dekapan lemak, sumber kegemukan yang juga sumber berbagai penyakit. Oh Tuhan, inikah takdirku? hidup seperti dua sisi mata uang. Hidup dalam dilema yang tak kunjung reda. Dielu-elukan sekaligus dibenci. Tak bisakah kutentukan takdirku sendiri? Aku hanya sebatang coklat yang tak punya kuasa. Biarkanlah hembusan takdir membawaku pergi.

Nyentrik di Hari Tua

Oleh: Hesti Wulandari Sitanggang

Sembilan puluh dua tahun hidup di dunia bukan perkara mudah karena getirnya hidup pasti banyak dirasakan. Butuh sosok yang kuat untuk melaluinya. Sosok itu adalah nenek saya. Sosok yang sebatang kara sejak kecil, namun sangat tegar. Tumbuh dan berkembang dalam kultur pedesaan namun pikirannya tidak pernah terbelenggu. Beliau sudah meninggalkan dunia ini lima tahun yang lalu namun kenangannya sangat membekas dalam benak kami. Sedih, haru, tawa mewarnai kenangan-kenangan itu. Beliau merupakan sosok yang penuh warna.

Saya masih teringat kisahnya di hari tua. Hari demi hari dilalui dalam kesejukan desa di utara kota Yogyakarta. Keterbatasan fisik karena umur yang sudah menua membuatya tidak banyak melakukan aktifitas. Kejenuhan sering menghampirinya dan menonton televisi merupakan salah satu cara untuk mengusir kejenuhan itu. Tetapi tidak semua acara televisi membuatnya bersemangat. Hanya ada satu acara yang membangkitkan semangatnya. Hal ini membuat saya tersenyum dan menggelengkan kepala karena beliau sangat menyukai acara tinju. Pukulan jab, hook, upercut (benar ga ya istilahnya?) bukan istilah asing baginya. Terkadang beliau secara spontan menginstruksikan petinju andalannya bak seorang pelatih. Hehehe….nenek yang nyentrik. Kok bisa ya? Saya bertanya dalam hati. Alasannya tidak penting karena semangat di wajahnya membuat hati ini teduh.

Bukan hanya karena menggemari tinju yang membuat nenek saya sangat unik. Beliau juga termasuk penggemar bir. Minuman yang memiliki kadar alkohol rendah ini mungkin memberikan kehangatan karena udara yang sejuk. Tapi beliau bukan seorang alkoholik. Kegemarannya itu hanya dilakukan ketika kami sekeluarga mengunjunginya. Biasanya ayah saya dibujuk untuk membelikannya bir dan merekapun minum bersama. Menurutnya bir membuat badan terasa segar dan hangat, mungkin itu doping baginya.

Kebiasaan lain yang membuat dirinya semakin unik adalah kegemarannya merokok. Padahal semasa muda beliau bukan seorang perokok. Entah mengapa rokok menjadi kegemarannya di hari tua. Itulah nenek saya, tak dapat ditebak. Rokok menjadi pelengkap hangatnya bir baginya. Kepulan asap yang keluar dari mulutnya seolah melepaskan kesepian. Yaaa…asap rokok bisa saja merupakan meatafora dari kegundahan hatinya di hari tua. Jadi hembusan asap rokok membawa semuanya pergi, terbang ke angkasa. Meninggalkan kepenatan dunia.

Dan ia pun benar pergi meninggalkan fananya dunia ini, kembali pada penciptanya. Saya yakin ia   bahagia tinggal bersama Yang Maha Kuasa sembari memandang anak-cucunya yang masih berjuang di dunia ini. Hmmmm….itulah nenek saya, sosok yang penuh warna. Sosok yang nyentrik di hari tua. I miss u grand ma..